Jambi – Kabupaten Batanghari kini telah berdiri selama 77 tahun, sebuah usia yang menjadikannya kabupaten tertua di Provinsi Jambi. Secara historis dan geografis, kematangan usia ini semestinya menempatkan Batanghari sebagai daerah yang paling maju, baik dari segi pembangunan fisik, kualitas sumber daya manusia, maupun kesadaran sosial politik masyarakatnya. Namun, realitas yang kita hadapi hari ini justru menunjukkan paradoks; adanya ketimpangan yang nyata antara tuanya usia daerah dengan laju kemajuannya.
Di tengah situasi ini, fenomena yang belakangan kita saksikan justru cukup memprihatinkan. Banyak mahasiswa memilih berdiam diri, padahal begitu banyak persoalan daerah yang menuntut pendampingan dan keterlibatan aktif kaum intelektual muda. Mulai dari maraknya peredaran narkoba, pembangunan infrastruktur yang belum merata, hingga berbagai problem sosial yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, semuanya membutuhkan kehadiran nyata mahasiswa. Di sinilah seharusnya peran mahasiswa sebagai agent of change, social control, dan advokat masyarakat mengambil tempat. Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi penonton atau pengamat, tetapi harus menjadi bagian dari solusi. Sayangnya, gerakan mahasiswa Batanghari hari ini masih tampak lemah, terpecah, dan seolah tidak terlihat gaungnya di ruang publik.
Kondisi ini memantik pertanyaan penting yang perlu kita refleksikan bersama: apa penyebab utamanya? Apakah lemahnya gerakan ini berasal dari dalam diri mahasiswa itu sendiri yang kekurangan kesadaran, keberanian, dan konsistensi? Ataukah ada tekanan dari luar, baik secara struktural, politik, maupun kultural, yang secara perlahan membungkam daya kritis mahasiswa?
Sejarah telah mengajarkan bahwa perubahan besar selalu lahir dari keberanian kaum muda. Soe Hok Gie pernah berkata bahwa mahasiswa adalah kelompok yang tidak punya kepentingan, kecuali kepentingan bangsa dan kemanusiaan. Kutipan ini menegaskan bahwa mahasiswa seharusnya berdiri di luar kepentingan pragmatis dan justru menjadi suara moral bagi masyarakat. Ketika mahasiswa memilih diam di tengah ketidakadilan, maka yang terjadi bukanlah stabilitas, melainkan pembiaran. Senada dengan itu, Tan Malaka juga mengingatkan bahwa idealismelah yang memberi arah pada perjuangan, bukan ketakutan. Oleh karena itu, ketakutan—baik terhadap kekuasaan, stigma, maupun tekanan sosial—tidak seharusnya menjadi alasan untuk mematikan idealisme mahasiswa.
Melalui refleksi ini, saya mengajak seluruh mahasiswa Batanghari, baik yang sedang menempuh pendidikan di daerah maupun di luar daerah, untuk pulang secara pemikiran dan gerakan. Mari kita bergandengan tangan, menyatukan langkah, dan menghadirkan kritik serta saran yang konstruktif demi kemajuan kabupaten kita tercinta. Jangan sampai Batanghari mengalami kemunduran yang justru akan berdampak langsung pada keluarga, kerabat, dan generasi setelah kita. Masa depan daerah ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab mahasiswa sebagai kaum intelektual dan agen perubahan.
Ingatlah, jika hari ini kita memilih diam, maka sejarah kelak akan mencatat bahwa kita pernah ada, namun tidak pernah berbuat apa-apa.





